Kampung Naga — pemandangan desa tradisional

Nikmati kesederhanaan

di Kampung Naga

Tinggalkan riuh teknologi dan hiruk-pikuk kota. Rasakan ritme hidup yang selaras dengan alam melalui kesederhanaan komunal yang terjaga murni selama ratusan tahun.

Tentang
Kampung Naga

Tersembunyi di lembah Sungai Ciwulan, Tasikmalaya, Kampung Naga adalah simbol harmoni antara manusia dan alam. Tanpa listrik dan teknologi modern, masyarakat adat di sini secara konsisten memegang teguh adat istiadat dan kehidupan tradisional leluhur, menjadikannya desa ekologi paling autentik yang tersisa di Jawa Barat.

4.7

Google Maps Rating

Destinasi wisata budaya dengan tingkat kepuasan dan apresiasi tinggi dari para wisatawan.

Tangga400+

Anak Tangga

Jalur tunggal menuruni lembah menuju kampung yang memberikan pengalaman perjalanan yang berkesan.

Sejak 1950

Menjaga Warisan Lestari

Tetap teguh mempertahankan kemurnian adat dan tata ruang tanpa tergerus dinamika zaman modern.

100+

Total Kepala Keluarga

Populasi menetap di area inti desa yang hidup rukun dalam harmoni komunal dan kesederhanaan.

Pemandangan Kampung Naga dari atas

Sejarah Tak Terlupakan

Pareumeun Obor

“Pareumeun Obor” sendiri memiliki arti

obor yang dimatikan

Hal ini menggambarkan seolah-olah cahaya, atau dengan kata lain keterangan (sejarah) mengenai Kampung Naga, lenyap begitu saja akibat kebakaran yang terjadi.

Yang tersisa hanyalah arti dari kata “Naga” pada nama Kampung Naga

Berasal dari kalimat “Dina Gawir” yang berarti berada di lembah yang curam, yang kemudian disingkat menjadi “Na Gawir” dan “Na Ga”

Hilangnya bukti sejarah, bersamaan dengan terjadinya pemberontakan DI/TII dan kebakaran hebat sekitar tahun 1950-an, yang membuat asal-usul Kampung Naga tidak pasti

Masyarakat seringkali menyebut peristiwa ini sebagai “Pareumeun Obor”

*Klik untuk info lebih lanjut

Identitas Tradisional — Kampung Naga

Identitas Tradisional

Hilangnya arsip sejarah tidak menghentikan masyarakat untuk tetap menjaga warisan budaya, adat istiadat, gaya arsitektur, hingga gaya hidup tradisional setempat.

Hal ini menjadikan Kampung Naga memiliki keunikan tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya, dari kebiasaan, kesenian, adat istiadat, hingga diterapkannya larangan atau "pamali".

01/05
Hidup Sederhana, Asri Tanpa Teknologi — Kampung Naga

Hidup Sederhana, Asri Tanpa Teknologi

Dengan mempertahankan identitas tradisional dan adat istiadat, masyarakat adat memilih untuk tidak menggunakan listrik dan teknologi modern apapun sebagai bentuk upaya menjaga warisan adat budaya.

Hidup sederhana dan selaras dengan alam menjadi salah satu nilai budaya adat yang tetap dijaga dan dilestarikan hingga saat ini sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

02/05
Dari Alam, Kembali Ke Alam — Kampung Naga

Dari Alam, Kembali Ke Alam

Masyarakat adat meyakini hidup harus selaras dengan alam, yang tercermin dari ketergantungan mereka pada hasil alam sebagai sumber utama penghidupan serta kepedulian tinggi terhadap kelestarian lingkungan.

Salah satu bentuk kepeduliannya adalah dengan mengelola sumber daya alam secara bijak seperti mengolah limbah makanan dan rumah tangga menjadi pakan ternak atau pupuk alami yang dapat kembali ke alam tanpa merusak ekosistem.

03/05
Menjaga Alam, Hidup Berdampingan — Kampung Naga

Menjaga Alam, Hidup Berdampingan

Selain sawah dan sungai, Kampung Naga juga dikelilingi oleh hutan, termasuk hutan di dekat sungai yang dikenal sebagai “Leuweung Larangan” yang berarti hutan larangan.

“Leuweung Larangan” bukan sekadar aturan adat atau pamali, tetapi bentuk kepedulian masyarakat terhadap alam. Area tersebut tidak boleh dimasuki siapa pun, bahkan ranting yang keluar dari hutan pun harus dikembalikan dengan cara dilempar tanpa memasuki kawasan hutan.

04/05
Budaya Dan Seni Yang Lestari — Kampung Naga

Budaya Dan Seni Yang Lestari

Kesenian musik tradisional seperti berbagai jenis “terbang” dan angklung tetap dilestarikan oleh masyarakat adat secara turun-temurun, hingga saat ini.

Kesenian tersebut secara rutin ditampilkan dalam upacara adat Kampung Naga maupun berbagai kegiatan kebudayaan lainnya. Pengunjung juga dapat menikmati pertunjukan musik tradisional apabila telah mengajukan permintaan jauh hari sebelumnya.

05/05

Informasi terbaru

Kabar Adat

KAMPUNG NAGA #2 : Corak Islam dalam Hajat Sasih dan Kesenian Terbang Gembrung

26 September 2025 | bandungbergerak.id

KAMPUNG NAGA #2 : Corak Islam dalam Hajat Sasih dan Kesenian Terbang Gembrung

Upacara Hajat Sasih dan Kesenian Terbang Gembrung di Kampung Naga menjadi potret asimilasi antara tradisi leluhur dan pengaruh agama Islam.

Baca Selengkapnya
Selaras Alam, Prinsip Hidup Masyarakat Adat Kampung Adat

9 Agustus 2025 | mongabay.co.id

Selaras Alam, Prinsip Hidup Masyarakat Adat Kampung Adat

Bagi masyarakat Kampung Naga, hidup berdampingan dengan alam merupakan filosofi hidup turun-temurun.

Baca Selengkapnya
Seren Taun : Ritual Syukur yang Menyatu dengan Alam dan Budaya

16 Desember 2024 | kumparan.com

Seren Taun : Ritual Syukur yang Menyatu dengan Alam dan Budaya

Seren Taun merupakan tradisi adat masyarakat Sunda sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang telah berlangsung sejak masa kerajaan Sunda.

Baca Selengkapnya

Punya pertanyaan lain?

Hubungi Kami